Rabu, 22 April 2009

Supermasive Black Hole

Terinspirasi dr salah satu adegan dalam film Twilight, di mana keluarga vampire bermain baseball saat badai dan adegan dilatari dengan salah satu soundtrack (Muse) bertitel 'SUPERMASSIVE BLACKHOLE', sensor saya menjelajah labirin-labirin otak penyimpan memori ttg black hole. Black hole atau singularitas dr bintang redup yg mengalami keruntuhan gravitasi itu telah menarik saya untuk mencari tahu lebih jauh ttg fenomenanya. Pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan AS , John Arcibald Wheeler pada tahun 1968, fenomena ini disebut 'lubang hitam' karena cahaya tidak bisa lepas dr kungkungan gravitasi singularitas yg maha dahsyat. Thn 1783 John Mitchell seorg pendeta yg 'penasaran' dgn hkm Gravitasi Newton branggapn bhw kalau suatu benda bisa lepas dari pengaruh gravitasi bumi, berarti ada planet/bintang lain yg punya gravitasi yg lbh besar. Dugaannya adlh di kosmis ini ada 1 bintang yg massanya 500 kali matahari yg mampu mencegah lepasnya cahaya dr permukaannya sendiri. Cikal bakal 'black hole' tyt adlh 'bintang biru' yaitu skelompok bintang yg massanya 1,4 kali massa matahari. Ketika pembakaran Hidrogen di bintang biru mulai usai (skitar 10 jt thn), ia akan memuai mjd 'bintang maha biru'. Bintang ini lalu akan mendingin menjadi 'bintang raksasa merah'. Pada saat inilah, akibat dr tarikan gravitasinya sendiri, bintang raksasa merah ini akan mengalami keruntuhan gravitasi menyebabkan 'ledakan maha dahsyat' atau yg disbt 'SUPERNOVA'. Tanda Supernova adlh adanya peningkatan kecerahan cahaya sampai miliaran kali cahaya bintang biasa. Supernova akan menghasilkan 2 jenis bintang, yaitu 'Bintang Netron' (disebt jg PULSAR/BINTANG BERDENYUT) dan 'BLACK HOLE'. Massa black hole lebih dr 3 kali massa matahari. Materi pembentuk lubang hitam kemudian mengalami pengerutan yg tdk dpt mencegah apapun darinya. Bintang kemudian mjd sangat 'masive' atau 'mampat' sampai mjd titik massa yg kerapatannya tidak berhingga shga disebut 'singularitas dr bintang redup' tadi. Bagaimana cara mendeteksi keberadaan black hole? Yaitu dgn melacak keberadaan 'BINTANG GANDA'. Yaitu dua bintang yg berevolusi dan saling mengelilingi. Black hole akan menyedot semua materi dan gas2 hasil ledakan termonuklir bintang di sekitarnya. Dari gesekan internal gas2 yg tersedot itulah akan timbul panas sampai 2 juta drajat Celcius (..waaa..panas) dan memancarkan sinar X. Dari keberadaan sinar X di kosmis inilah para ahli 'menjejak' / merekam keberadaan black hole.

Label:

Niet Belangrijk (Ga Penting)

Menurut teori kuantum Erwin Schrodinger yg saya baca, ketika alam semesta dihadapkan pada pilihan-pilihan tingkat dasar, ia mengambil keputusan secara acak. Keputusan tidak akan dibuat sampai seseorang menyaksikan apa yg sedang terjadi. Ada 2 alam semesta, keduanya nyata tapi kita hanya mengalami salah satunya. Jadi, alam, tampaknya bekerja sesuai aturan kasino. Kata Einstein : "saya tidak percaya Tuhan main dadu dengan semesta". Tapi percobaan membuktikan bhwa kredo itu keliru. Kenyataan menunjukkan bahwa semesta berlaku apa adanya. Apa yang ada saat ini adalah akibat suatu perbuatan dari masa sebelumnya, bukan suatu 'kebetulan' belaka. Berkaitan dgn hal tersebut, dalam rangka Earth Day atau Hari Bumi, tanggal 22 April 2009, maka selayaknyalah kita manusia tidak menyerahkan 'nasib' bumi pada aturan kasino, dengan 2 peluang : lestari atau hancur. Membiarkan alam begitu saja sama dengan memberikan peluang 'hancur' padanya. Campur tangan manusia dalam pemeliharaan bumi dapat 'memperbesar' peluang bumi untuk menuju 'kelestarian'. Mengapa demikiam? Karena manusia bisa dan punya daya untuk menyelamatkan bumi. Ecoside/pemusnahan lingkungan, pemanasan dan pendinginan global, eksploitasi alam tanpa kendali, itu semua bukan 'akibat' tapi lebih merupakan 'kumpulan gejala'/simptom dari sikap tidak peduli manusia terhadap bumi tua ini. Bumi dibiarkan menempuh nasibnya sendiri dan peluang menuju kehancuran menjadi besar. Fakta menunjukkan, entropi atau ukuran jumlah kekacauan dalam alam semesta telah meningkat secara eksponensial sejak manusia menasbihkan diri sebagai 'penguasa bumi'. Perubahan iklim dari biasa menjadi 'aneh dan tidak biasa' bisa menjadi indikator adanya akselerasi positif bagi entropi. Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Sederhana saja. Lakukan dari apa yang melekat pada diri sendiri. Mengurangi konsumsi makanan berbasis hewan, atau mengubah 'mode' dari carnivora sejati menjadi herbivora, termasuk satu langkah 'kecil tapi cerdas dalam memperkecil kerusakan lingkungan. Contoh lain : hemat air, hemat listrik, hemat kertas, hemat energi, menanam satu pohon dalam rentang waktu tertentu, memanfaatkan limbah, mendaur ulang kertas, mendaur ulang plastik dan logam serta hidup bersahaja di alam ini. Mengubah kebiasaan tentu sulit. Namun, akan lebih sulit lagi jika alam dan bumi ini hancur atau binasa.. Jangan ada kata-kata 'NIET BELANGRIJK' untuk memelihara dan melestarikan lingkungan, agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati keteraturan alam semesta sebagaimana kita semua saat ini.

Label:

Jumat, 17 April 2009

Tips mempersiapkan diri menghadapi UN 2008/2009

'Waktu' adalah dimensi yg tidak dapat diulang. Juga tidak dapat dihentikan. Menjalani sekolah mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA, selalu selaras dgn dimensi 'waktu'. Seharusnyalah, upaya belajar yg selaras dgn waktu, meningkatkan kompetensi secara eksponensial. Adalah ekspektasi yg wajar kalau seorang siswa kelas XII atau kelas 3 SMA 'mengira' dirinya sudah cukup mendapat 'pasokan' ilmu selama belajar 3 tahun di SMA. Namun itu semua belumlah cukup. Melalui Ujian Nasional, akumulasi kompetensi siswa di jenjang terakhir SMA akan diuji. Namun kini ada 'trend psikologis' yg baru 'muncul' sejak diberlakukannya UN (Ujian Nasional) sebagai penentu kelulusan siswa. Trend yg baru itu adalah timbulnya gejala kecemasan/anxiety dan ketegangan/nervous pada siswa yang disebabkan oleh rasa takut tidak lulus UN. Beberapa sekolah bahkan mengadakan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), yaitu semacam pelatihan melibatkan siswa dan orangtua agar lebih siap menghadapi UN dan juga menggelar acara doa bersama yg melibatkan pejabat. Memang ini merupakan upaya yg baik, namun menurut Lucia RM Royanto, seorang psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, sekolah memang harus membantu siswa agar siap menghadapi UN, namun jangan berlebihan. UN selayaknya dijalani secara alami sebagai bagian dari proses pendidikan. Dan faktanya yang terjadi saat ini adalah siswa merasa semakin tegang/nervous. Padahal seharusnya minggu-minggu terakhir siswa dibuat rileks secara mental sehingga percaya diri dalam mengikuti ujian. Akibat dari kecemasan dan nervous, banyak siswa yang mencoba mencari jalan pintas, demi 'kelulusan'nya. Antara lain, mencari bocoran soal di internet ataupun mendatangi 'orang pintar' yang 'dikiranya' dapat menolongnya dari keputusan lulus dan tidak lulus ini. Melihat kondisi tersebut, melalui tulisan ini saya ingin memberikan sedikit tips persiapan UN untuk memanfaatkan sisa waktu 2 hari sebelum UN. Dengan harapan, siswa akan lebih tenang dan tahu apa yang harus dilakukan di sisa waktu yg sempit ini. Tipsnya adalah : 1. Ini saatnya fokus pada UN. Jadi, hentikan perhatian pada segala sesuatu yg berhubungan dgn 'online' seperti chatting, browsing dll. 2. Stop mencari bocoran soal. Untuk informasi, soal UN bersifat 'sangat rahasia'. Peluang untuk soal UN 'berserakan di internet adalah nol persen. 3. Stop aktivitas fisik yg menguras tenaga dan perasaan atau berpotensi menyebabkan kecelakaan. Futsal, basket, bepergian keluar kota, nonton film yg mempengaruhi psikis juga main game, adalah contoh kegiatan yg sudah waktunya dicoret dari daftar kegiatan harian. 4. Makan teratur dengan menu sehat dan bersih. 5. Hindari begadang. Sekali-sekali tidak ada salahnya kita ikuti nasehat dari Bang Rhoma Irama... 6. Siapkan logistik pribadi untuk UN. Dua buah pensil 2B, rautan yang cukup tajam, penghapus pensil yang baru dan bersih, ballpoint, tissue untuk yang telapak tangannya berkeringat dan berpotensi mengotori LJUN (Lembar Jawaban UN) serta alas tebal, sebagai antisipasi jika mendapat jatah meja yang permukaannya bergelombang/berlubang. 7. Siapkan mental 'perang total'. Jaga agar semangat tetap di atas 80% meski hati merasa sangat 'galau dan merana'. 8. Belajar tapi jangan sampai membuat 'dahi berkerut' lupa mandi lupa makan lupa diri. Belajar sesuai kisi-kisi dari guru maksimal 2 jam. Setelah itu disarankan bersantai dalam rumah agar rileks. Ingat, saat kita merasa rileks tanpa beban, kemampuan otak besar mengolah informasi dan menganalisa soal akan meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan jika kita merasa cemas dan tegang. 9. Sarapan pagi sebelum berangkat UN. 10. Minta doa restu orang tua. 11. Berdoa. 12. Pada saat mengerjakan soal jangan pernah berpikir untuk menjawab soal dgn formasi jawaban tertentu, misalnya jika 3 jawaban sebelumnya A, B, dan C, berarti jawaban berikutnya D. Ingat, jawaban soal yang terkomputerisasi tidak memiliki preferensi pola-pola tertentu seperti ini. Dan tips ke 13 adalah, jika sudah berusaha secara maksimal, berdoa sungguh-sungguh, maka yang dapat dilakukan adalah menunggu dan menerima hasilnya dgn berlapang dada. (Semoga semua siswa kelas XII SMU Tegalombo TP 2008/2009 lulus UN TP.2008/2009. Amien)

Label:

Minggu, 12 April 2009

Pemilihan Umum 9 April 2009

Pemilihan Umum tahun 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia. Istilah yang dipakai 'pemilihan umum' tanpa disingkat menjadi akronim PEMILU seperti yg akhirnya digunakan sampai sekarang, membawa-bawa kebiasaan Orba yang hobby meng-akronimkan segala sesuatu sesuai dalam bahasa komando untuk lingkungan terbatas. Penggunaan singkatan menimbulkan kerugian tersendiri secara kognitif. Gagasan yg hendak disampaikan menjadi kabur karena hubungan antara representasi dengan apa yg direpresentasikan tidak lagi bersifat langsung. Orang harus berpikir dulu bhwa PEMILU berarti 'pemilihan umum' dan kemudian berpikir tentang makna istilah itu. Istilah 'pemilihan umum' menunjuk dua konteks yg berbeda, bahkan bertentangan. Kata 'pemilihan' menunjuk suatu konteks terbatas, sementara kata 'umum' menunjuk konteks yang terbuka. Kata 'pemilihan' menunjuk lingkup dari beberapa orang tertentu, sedangkan kata 'umum' melibatkan semua orang. Dalam praktiknya, 'umum' berarti 'semua warga negara yg memenuhi syarat hukum & syarat administratif untuk memberikan suara, sedangkan 'pemilihan' merujuk kepada sejumlah orang yg dianggap mampu dan layak menjadi wakil rakyat. Demikian tulisan Ignas Kleden, Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi di harian Kompas edisi spesial Pemilu tgl 10 April 2009 lalu. Saya sepakat dalam hal ini. Bahkan, bukan hanya istilahnya saja yang 'membingungkan awam, dalam pelaksanaannya kali ini, saya juga termasuk kelompok massa yg bingung. Ada banyak partai. Bendera. Belum lagi spanduk dan plang-plang bergambar 'wajah' caleg berwajah ayu sampai yg berkumis dgn senyum super 'jaim'nya. Di sepanjang jalan segala 'asesoris kampanye partai' itu membuat suasana terlalu 'meriah'. Bukannya menarik, saya, jujur saja, malah pusing. Ditambah lagi 'serangan rayuan maut via sms yg masuk ke ponsel saya, ajakan untuk mencontreng lambang partainya. Belum lagi acara tv, iklan di koran satu halaman penuh dan lain-lain. Sekali lagi, jujur saja, akhirnya itu membuat saya 'kekenyangan'. Ada benarnya apa yg dikatakan Yasraf Amir Piliang, pemikir di Fsk FSRD ITB Bandung. Ini pesta 'hiperdemokrasi'. Semua wacana politik tumbuh melampaui batas-batas ideal, sehingga terjadi apa yg disebut 'OBESITAS DEMOKRASI' yg berakibat pada nihilisme, kehilangan esensi, makna, dan tujuannya sendiri. 'Obesitas demokrasi' ditunjukkan oleh 'over fragmentasi' yaitu terlalu mikronya diferensiasi partai sehingga menciptakan fragmen-fragmen partai yg menyulitkan pembedaan atau 'micro difference'. Overfragmentasi menciptakan defragmentation of ideology, yaitu terbentuknya kondisi 'fatalis-nihilis', lenyapnya batas-batas di antara elemen politik sehingga batas ideologis antara partai 'nasionalis' satu dan lainnya, partai 'demokrasi' satu dan lainnya atau partai 'keagamaan' satu dan lainnya menjadi kabur. Terlalu banyak gambar, lambang, simbol, foto, maskot, figur yg menimbulkan turbulensi pada tingkat kognitif, afektif dan semiotik. Jadi adalah sangat wajar jika pada hari 'H' pemilihan umum berlangsung, masyarakat yang 'berada dalam keadaan kekenyangan demokrasi' akhirnya melabuhkan ujung tinta merahnya di lambang partai yang paling 'akrab' dan dikenalinya dgn baik selama 5 tahun terakhir ini. Saya sepakat dgn tulisan M.Qodari, direktur eksekutif Indo Barometer Jakarta yg menegaskan bahwa 'iklan' yaitu sebagai salah satu metode kampanye akan sangat menentukan hasil. Iklan tidak berdiri sendiri. Ia harus didasarkan figur yg populer, program kerja yg populis dan cara beriklan yg tepat. Apa pun itu, besarnya peran iklan dalam mendongkrak popularitas partai merupakan hal yg nyata. Bukan hanya 'tagline' yg diusung, tetapi juga iklan layanan masyarakat adalah iklan yg masif. Sistem 'massa mengambang' yg digunakan orba dan masih ditiru oleh beberapa partai saat ini tampaknya tidak lagi efektif untuk diterapkan. Dan saya sebagai warga negara yg awam yg juga berada dalam keadaan "turbulensi kognitif afektif dan semiotik" atau 'kekenyangan pesta kampanye' terbukti telah 'merekam, menerima dan memahami iklan-iklan' tertentu yg sering saya terima, dalam alam bawah sadar saya sehingga membuat saya merasa percaya dgn program-programnya, merasa mengenalnya dgn baik dan rasa-rasanya 'cocok' dgn visi misi kebangsaan saya, sebagaimana ribuam pemilih lainnya.. Maka akhirnya, di hari pemilihan umum ini, saya pun mencontreng lambang partainya dgn optimis, ikhlas dan yakin bhw semua akan berjalan dgn 'baik-baik' saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Semoga.

Label:

Senin, 06 April 2009

Pengalaman menjadi Guru Model pada Kegiatan Pelaksanaan Lesson Study di kelas X.1 SMAN 1 Pacitan

Hari Sabtu tanggal 4 April 2009 adalah hari pelaksanaan tahapan 'PLANNING' Lesson Study. Saya, yang ditunjuk untuk menjadi guru model, sudah membuat RPP dan Presentasi Kingdom Animalia dalam format power point dgn tampilan yang saya buat se'manis' mungkin. Di SMAN 1 Pacitan, saya dan teman2 guru MGMP Biologi sekabupaten Pacitan melakukan pembahasan tahap akhir RPP yang telah saya buat, dari jam 9.00-10.30 Wib. Setelah itu barulah jam pelajaran ke 6 atau jam 11.00 saya melaksanakan tahap 'action' dengan menjadi Guru Model yang mengajar di kelas X.1 disaksikan oleh rekan guru MGMP Bio sekabupaten Pacitan. Berhubung ini adalah penampilan perdana saya dalam acara 'mengajar sambil ditonton oleh teman', maka di menit2 pertama mengajar saya sempat grogi. Untunglah itu tidak berlangsung lama. Saya segera bisa mengendalikan diri dan mengajar dengan gaya 'sersan' seperti biasanya. Serius tapi santai. Saya menerapkan metode ceramah secara klasikal yang dibantu dengan media presentasi power point, dikombinasikan dgn permainan 'talking stick'. Untuk sedikit improvisasi, saya menggunakan boneka Snoopy yang imut sebagai pengganti 'stick'nya. Ternyata siswa terlihat sangat antusias, senang dan bersemangat. Mereka juga aktif dan bisa berkonsentrasi penuh selama pembelajaran. Saya menjadi lebih senang lagi setelah menilai hasil post tes atau kuis yang nilainya berkisar antara 70 hingga 100. Semuanya tuntas. "Tujuan pembelajaran tercapai". "Sangat bagus". "Sangat baik". Itulah komentar2 dari teman2 guru yang menyaksikan saya mengajar. Hanya satu kata yang segera melintas di otak saya yaitu ALHAMDULILLAH. Lesson Study dan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan, sesuai program MGMP Biologi di tahun 2009 ini sudah dilaksanakan dan saya bisa menyelesaikan tugas sebagai Guru Model dgn baik. Terbayar sudah upaya saya selama semalam tanpa tidur. Sekali lagi saya mengucapkan ALHAMDULILLAH dalam hati.

Label:

Rabu, 01 April 2009

Lesson Study, 'makanan' apakah itu?

Saya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi 'guru model' pada Lesson Study mapel biologi yg akan dilaksanakan MGMP Biologi pada tgl 4 April 2009 di SMAN 1 Pacitan. Saya -sebelumikutduakaliworkshoplessonstudy- mengira bhw LS (lesson study) itu adalah satu di antara ratusan jenis model/metode pembelajaran, seperti STAD, Cooperative Script, Jigsaw, Problem Posing dll. Ternyata, saya keliru besar. LS bukan model pembelajaran, juga bukan metode pembelajaran. Lesson Study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Rumit bukan?? Begini sajalah, sederhananya, LS adalah upaya guru untuk mereview pembelajarannya dengan melibatkan sejumlah kolega/rekan guru yang akan bertindak sebagai observer selama pembelajaran guru tsb berlangsung. Hasil observasinya kemudian direfleksikan, didiskusikan dalam diskusi yg dilaksanakan dalam suasana penuh penghargaan dan penghormatan kepada semua anggota tim LS khususnya kepada guru model. Dengan adanya diskusi diharapkan ada peningkatan kompetensi anggota tim, khususnya untuk guru model, karena ada masukan untuk perbaikan pembelajarannya. LS mencakup 3 tahap kegiatan: perencanaan/planning, implementasi pembelajaran/action dan observasi serta refleksi/reflection terhadap tahap pertama dan kedua. Tujuan LS adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sedangkan manfaatnya menurut Wang-Iverson dan Yoshida antara lain untuk mengurangi keterasingan guru dr komunitasnya, membantu guru untuk mengobservasi & mengkritisi pembelajarannya serta memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum. Sekarang, saya dan kawan2 tim MGMP masih dalam tahap pertama, yaitu planning. Pada tahap ini saya mempersiapkan perangkat pembelajaran lengkap (silabus, prota, promes, RPP, LKS, lembar observasi) dan membuat denah pembagian kelompok siswa serta identitas siswa yang akan dibagikan kepada sekitar 18 orang observer. Karena kelas yang akan digunakan adalah kelas X , yaitu kelas x.1 SMAN 1 Pacitan, maka materi pelajaran yang akan saya sampaikan adalah Kingdom Animalia. Saya hanya punya waktu 1 hari untuk menyiapkan itu semua. Dan sebelum pelaksanaan, RPP nya juga masih harus dibahas bersama tim MGMP. Tapi saya bersyukur, dengan terpilih menjadi guru model, saya akan mendapat masukan berharga dari rekan sejawat mengenai pembelajaran saya di kelas. Masukan2 itulah yang akan membuat saya bisa memperbaiki kualitas pembelajaran saya sehingga kompetensi saya sebagai guru juga akan meningkat. Selain itu saya juga akan selalu termotivasi untuk berinovasi dalam pembelajaran untuk menemukan metoda pembelajaran berlandaskan pendidikan character building yang aktif kreatif efektif dan menyenangkan.

Label: